Misteri Efek Musik Mozart Terhadap Kesehatan dan Kecerdasan


Sebuah perusahaan di Jerman mengatakan musik Mozart dapat memperlancar pembuangan limbah! Mari kita lihat di berbagai studi dan penelitian dalam efek Mozart.
IntelijensiaIstilah Mozart effect (efek Mozart) diciptakan pada 1995 oleh para ilmuwan di Universitas California yang menemukan bahwa ternyata siswa mendapat nilai yang lebih baik pada tes IQ spasial setelah mendengarkan musik Mozart. Para ilmuwan juga mencoba musik trance, musik minimalis, audio-books, dan instruksi relaksasi, namun tidak ada yang berpengaruh seperti musik Mozart.

Studi selama lima hari, yang menguji 79 siswa, juga mencatat peningkatan dramatis dari hari pertama ke hari kedua, yaitu peningkatan 62% bagi kelompok pendengar Mozart, 14% bagi kelompok diam (kelompok yang tidak mendengarkan apa-apa), dan 11% bagi kelompok campuran (kelompok yang mendengarkan jenis musik dan rekaman lain). Studi ini menyimpulkan bahwa respon korteks terhadap musik Mozart ialah sebagai bahasa internal untuk meningkatkan fungsi otak.
Mozart – Sonata (duo piano) K. 448
Produksi SusuSeperti dilaporkan dalam sebuah artikel pada 2007 oleh media Spanyol, El Mundo, sapi di sebuah peternakan di Villanueva del Pardillo, Spanyol, menghasilkan 30 – 35 liter (sekitar 8-9 galon) susu per hari, dibandingkan dengan hanya 28 liter di pertanian lainnya.

Ia juga mengklaim bahwa susunya memiliki rasa yang manis. Dan kini, para petani mulai dari Israel hingga Inggris semuanya memperdengarkan musik klasik bagi sapi mereka!
Menurut kabar, biarawan di Brittany, Prancis, adalah orang pertama yang menyuruh untuk memperdengarkan lagu Mozart kepada para sapi, menurut ABC News.
Mozart – Concerto for Flute and Harp
Kesehatan Bayi PrematurPada Januari 2010, jurnal Pediatrics menerbitkan sebuah studi oleh para ilmuwan Israel yang menunjukkan bahwa musik Mozart membantu proses kelahiran bayi prematur lebih cepat dengan berat badan normal.

Para dokter mencatat bahwa bayi yang mendengarkan musik menjadi lebih tenang, sehingga mengurangi pengeluaran energi saat beristirahat (Resting Energy Expenditure – REE).
“Paparan musik Mozart secara signifikan menurunkan REE pada bayi prematur yang sehat. Kami berspekulasi bahwa efek musik terhadap REE mungkin menjelaskan peningkatan berat badan sebagai hasil dari efek Mozart,” menurut kesimpulan para peneliti dalam makalah mereka.
Mozart – Symphony 40
Pembuangan LimbahPada 2010, sebuah pabrik pengolahan limbah dekat Berlin, Jerman, mengujicobakan sistem suara Mozart yang dibuat oleh perusahaan Jerman, Mundus. Musik karya Mozart The Flute Enchanted itu diperdengarkan bagi mikroba pemakan limbah.

Detlef Dalichow, spesialis dalam manajemen air limbah, mengatakan kepada surat kabar Märkische Allgemeine, “Limbah lumpur yang harus kami angkut pergi secara signifikan telah berkurang.”
Perusahaan diperkirakan mampu menghemat hingga 10.000 euro (sekitar 115 juta rupiah) untuk biaya pengangkutan lumpur. Mundus mengatakan bahwa dalam memutar musik Mozart, mereka berusaha menggunakan speaker besar sehingga tampak semirip mungkin dengan suara ruang konser.
Mozart – The Flute
Pertumbuhan TanamanTelah dilakukan percobaan memperdengarkan segala macam musik pada tanaman sejak 1970-an. Beberapa jenis musik mereka gemari, dan beberapa musik lainnya justru membuat mereka mati. Sedangkan musik Mozart merupakan salah satu musik favorit bagi tanaman.

Dalam ruang pertama, tanaman harus mendengarkan musik rock selama tiga jam sehari. Sedangkan di ruang lain, radio memperdengarkan musik easy listeningselama tiga jam sehari.
Ternyata tanaman yang mendengarkan musik easy listening tumbuh lebih sehat, dan batang mereka mulai menekuk ke arah radio. Sebaliknya, tanaman yang mendengarkan musik rock, memiliki daun kecil dan bersandar jauh dari radio. Mereka tumbuh tinggi dan kurus, dan sebagian besar dari mereka mati setelah 16 hari.
Retallack melanjutkan eksperimen dengan berbagai jenis musik. Tanaman bersandar jauh dari Led Zeppelin dan Jimi Hendrix tapi sepertinya lebih menghargai musik organ dan jazz karya Johann Sebastian Bach. Favorit mereka (tanaman), menurut Retallack adalah musik klasik India Utara yang dimainkan dengan sitar.
Mozart – Symphony 25
Kebun AnggurPada 2001, demi mencari cara alami untuk menjaga tanaman anggurnya terbebas dari hama, pecinta musik Carlo Cignozzi mengatur speaker di sepanjang 24 hektar perkebunan anggur Tuscan, Il Paradiso di Frassina.

Cignozzi mengatakan bahwa anggur yang berjarak paling dekat ke speaker lebih cepat matang, dan hal ini hanya bekerja dengan musik klasik saja, dan bukannya musik pop atau rock.
Pada 2006, sebuah tim peneliti dari Universitas Florence melakukan penyelidikan lebih lanjut. Menurut profesor pertanian Stefano Mancuso, suara musik membuat anggur matang lebih cepat daripada mereka yang tidak terpapar musik. Musik juga memiliki efek positif pada pertumbuhan pohon anggur dan lebar daun per pohon anggur.
Mozart – Piano Concerto No. 21 Andante
Tikus di LabirinFrances Rauscher, salah satu ilmuwan yang berpartisipasi dalam studi “efek Mozart” yang pertama pada 1995, melanjutkan studi tersebut pada tikus pada 1998. Sekelompok tikus diperdengarkan musik Mozart ketika berada di rahim dan selama 60 hari setelah kelahiran. Kemudian ditemukan bahwa tikus ini lebih baik dalam menavigasi labirin dibandingkan kelompok lain dari tikus yang tidak diperdengarkan musik atau diperdengarkan musik lain.

“Perbedaannya semakin meningkat setelah 5 hari. Hal ini menunjukkan bahwa paparan yang berulang dari musik yang rumit menginduksi peningkatan spasial-temporal belajar pada tikus, menyerupai hasil yang ditemukan pada manusia.” (Louis Makiello/Epochtimes/osc/erabaru news/icc.wp.com)
Requiem KV 626 (Introitus)
No comments:
Post a Comment